Selasa, 02 Februari 2016

Wawancara Eksklusif: Tosan, korban penyiksaan mafia tambang pasir Lumajang

Sumber :



Tosan, salah satu korban penyiksaan kelompok penambang pasir liar di Lumajang, bicara blak-blakan soal penambangan pasir yang menewaskan Salim Kancil.
BATANG rokok yang melekat di bibir Tosan berubah jadi puntung. Ia menekan ujungnya yang berasap ke asbak lalu ia ambil sebatang rokok lagi. "Dokter tidak bisa melarang saya merokok," kata Tosan.
Padahal dua perban dari kasa menempel di perutnya. Ia memperlihatkan jahitan bekas operasi memanjang mulai dari pusar hingga ke dekat tulang iga. Menurut Tosan, lambungnya robek. Cairannya meracuni paru-paru dan organ dalam tubuhnya yang lain.
"Pantangan saya cuma satu. Tidak boleh mencium, dan juga dicium," kata pria 53 tahun kepada Heru Triyono dari Beritagar Jumat, 16 Oktober 2015, di kediamannya yang sederhana di Jalan Watu Pecak, Dusun Krajan II, Desa Selok Awar Awar, Kecamatan Pasirian, Lumajang.
Bagi saya tidak bertindak sama sekali adalah bukan pilihan. Jika bukan kita yang melawan (penambangan), siapa lagi?
Tosan, korban penyiksaan penambang pasir liar Lumajang, Jawa Timur
Tampak bilik bambu mengelilingi bagian ruangan tamu yang luasnya sekitar 5x7 meter. Di beberapa bagian, tampak tembok dengan plesteran sekenanya. Satu karpet hijau terhampar di bagian tengah ruangan.
Dia memperkenalkan Beritagar kepada beberapa koleganya yang sedang bertamu. Satu di antaranya berkumis tebal, yang menyebutnya sebagai selebritas dadakan. "Anda beruntung menemui selebritis. Media lain ditolaknya untuk wawancara," kata koleganya itu.
Tosan memang menjadi berita utama belakangan ini. Dia selamat dari penganiayaan para preman tambang pasir yang dipimpin Kepala Desa Selok Awar Awar, Hariyono.
Tosan adalah saksi kunci kematian rekannya, Salim Kancil, sesama aktivis Forum Komunikasi Masyarakat Peduli Pasir Selok Awar Awar. Forum ini merupakan wadah warga yang menolak aktivitas penambangan pasir liar di desa itu. "Saya diganggu hampir setiap hari sejak mendirikan forum itu pada 12 Mei 2015," ujarnya.
Beberapa orang polisi dari Kesatuan Brigade Mobil yang menjaga kediaman Tosan tampak sedang bicara satu sama lain sambil tetap mengawasi gerakan orang-orang yang melintas di sekitar rumahnya.
Sore itu, Tosan terus menerus menerima tamu yang berkunjung sembari diselingi tanya-jawab dengan Beritagar. "Sebenarnya I don't like interview," celetuknya. 




Bagaimana Anda memandang situasi sekarang di Desa Selok Awar Awar pasca tragedi berdarah yang menimpa Anda dan almarhum Salim Kancil...
Saya merasa telah membuat perubahan. Tambang pasir jadi berhenti. Coba Anda lihat juga depan jalan rumah saya. Sekarang kering, kalau dulu, jalan selalu basah akibat tetesan air laut dari truk dan itu berlangsung 24 jam.
Setelah tambang pasir PT IMMS (Indo Modern Minning Sejahtera)--yang sudah menggarap lahan pasir besi di Lumajang sejak 2010--kini dihentikan, siapa yang menguasai penambangan ini...
Yang menguasai itu ya negara dong. Tidak ada embel-embel pemiliknya siapa, titik tidak ada koma.
Kepala Desa Hariyono diduga melakukan penambangan di atas lahan penambangan milik PT IMMS, apa sebenarnya peran dia dalam penambangan itu?
Ya pokoknya dia mencuri. Titik tidak ada koma.
Anda tahu siapa penampung hasil tambang ini?
Saya tidak tahu, silakan tanya ke negara (polisi).
Sejak kapan sebenarnya penambangan pasir di pesisir pantai Kabupaten Lumajang dilakukan?
Empat tahun lalu. Namun kami baru memulai penolakan pada 12 Mei 2015--saat forum didirikan (Forum Komunikasi Masyarakat Peduli Pesisir Selok Awar Awar). Saya langsung diangkat jadi ketuanya. Awalnya, kami hanya kirim surat-surat saja (surat keberatan keberadaan tambang pasir ke Pemerintah Kabupaten) tapi tidak ditanggapi.
Yang Anda dan Salim Kancil tolak itu penambangan pasir yang di mana?
Semua penambangan pasir liar. Masalahnya ini adalah pencurian. Saya tidak mau ada yang mencuri punya negara. Saya tidak suka milik negara dicuri orang. Itu harus disetop. Ini yang menyebabkan orang saling bunuh.
Bisa agak diperinci...
Di kawasan pesisir pantai selatan, Kabupaten Lumajang. Kalau di Malang dan Jember, bukan urusan saya, kan sudah ada jiwanya (orang) sendiri. Kalau bisa, mereka contoh saya. Saya heran, kenapa kok sampeyan (para media) diam saja waktu itu. Harusnya sebagai media juga mencegah pencurian itu.
Apa yang mendasari Anda dan teman-teman menolak. Apakah karena Anda dirugikan?
I don't like ada orang yang mencuri. Titik. Yang saya bela itu sampeyan, bukan cuma saudara-saudara saya saja yang ada di sini. Masa ada pencuri didiamkan saja. Yang dicuri itu apa? Pasir. Pasir siapa? Punya negara lho. Sedangkan sampeyan anak negara. Masa Anda diam saja, jangan hanya mencari kabar (berita) saja.
Dengan sikap Anda yang vokal dan berani, masyarakat mendukung?
Saya ini dianggap gawat. Kenapa? Karena saya kurus, tapi bisa berbuat gawat. Coba pandang saya, saya gawat tidak? Yang pasti saya akan bangga kalau anak-anak saya nanti mengikuti jalan saya dan membuat perubahan.
Banyak masyarakat yang mau melawan tambang?
Kalau tidak mau malah saya tempelengi. Bukan penyiksaan lho. Ini soal membina persatuan dan perjuangan.
Sampai sekarang Anda masih menerima ancaman? Teror apa saja yang diterima?Ancaman apa? Nyawa. Tapi ya saya terima, wong saya berjuang, biar saja nyawa taruhannya. Saya tidak pernah akan ragu untuk bersikap. Kalau ragu saya tidak akan melangkah.
Apa sebenarnya profesi Anda. Di media Anda disebut sebagai petani...
Saya bukan petani, tapi buruh tani.
Kabarnya Anda penambang pasir juga...
Kalau Anda bertanya begitu, sampean ingin berpolitik. Jangan bertanya yang pintar mengarahkan begitu, saya ini babonnya orang pintar. Titik, tidak ada koma.


Muhammad Ridwan (25 tahun) masih teringat suasana riuh gocekan, tendangan dan gol yang tercipta di lapangan Selok Persil, Desa Selok Awar Awar, Jumat sore, 25 September 2015.
Puluhan orang penonton berjejer di tepian lapangan, melihat klub Perseper (Pemain Selok Persil) berlatih tanding. Tua, muda, perempuan, anak-anak semua berkumpul menikmati laga sembari melahap jajanan cilok. "Setiap hari lapangan ramai," kata Ridwan.
Namun sehari setelah pertandingan itu, Sabtu (26/9/2015), semuanya berubah. Suasana lapangan sepi. Rerumputannya juga mulai mati terpanggang matahari ketika Beritagar mengunjungi pada Jumat 16 Oktober 2015 lalu.
Sore itu tidak ada yang bermain bola. Di lapangan tersebut, Tosan dilindas berulang-ulang dengan sepeda motor. Lapangan berjarak sekitar 40 meter dari rumah.
Sebelum diseret ke lapangan, ketika penyiksaan dilakukan di depan rumah, Ridwan, yang juga aktivis Forum Komunikasi Masyarakat Peduli Pesisir Selok Awar Awar mencoba membela Tosan. "Saya ajak bertarung satu-satu (pelaku)," ujarnya.
Tapi dia mengaku dikepung dua puluhan orang. "Saya tidak bisa membantu Pak Tosan yang digebuki sekitar 10 menit." Ridwan pun hanya bisa berteriak-teriak. Ia tidak melihat ketika Tosan dilindas motor, karena dihalangi para pelaku.
***
Anda kenal dengan para pelaku itu? Benarkah mereka Tim 12 yang menjadi kaki tangan Hariyono?
Separuh kenal. Wis itu saja. Tanya saja negara (polisi) yang lebih tahu. (Menurut Ridwan, orang-orang ini adalah Tim 12 yang merupakan orang-orang kepercayaan kepala desa--yang kini masih banyak berstatus DPO (Daftar Pencarian Orang), dan berkeliaran mengancam warga juga dirinya.
Ketika dianiaya, Ridwan yang menolong Anda...
Saya tidak memikirkan siapa yang melihat atau membela saya. Yang saya pikirkan adalah keselamatan.
Bisa diceritakan bagaimana kronologi pengeroyokan terhadap Anda?
Saya tidak mau bicara tentang itu, titik. Anda ini bagaimana, sana silakan tanya negara (polisi).
Waktu Anda diseret ke lapangan, kenapa tidak ada tetangga yang berani membela?
Karena tetangga masih capek, itu masih pagi dan orang sedang beraktivitas. Ada yang sedang buang air besar, dan juga ada yang memandikan sapi.
Sedemikian rupa Anda dipukul dengan pacul dan batu, tapi masih bisa selamat, Anda punya ilmu?
Benar. Ingin tahu ilmu saya? Ilmu saya selalu mengawali kegiatan dengan membaca Bismillah. Tapi kegiatan ini kegiatan yang benar. Saya ini tidak punya tenung (ilmu hitam). Tapi saya punya ilmu anti tambang. Kalau anti senjata tajam, itu Wallahu A'lam, yang jelas harus percaya Gusti Allah. Saya orangnya kosongan. Lihat saja setelah dirawat, daging saya habis. Saya kurus setelah dirawat.


Puluhan lubang-lubang raksasa bekas tambang pasir di Pantai Watu Pecak kini menganga tidak terurus. Garis polisi, yang dipasang di areal penambangan, tampak sudah keriting tertiup angin laut yang kencang.
"Sebelum tragedi itu, pantai ramai dengan pekerja penambang pasir," kata Muhammad Rosid, warga Desa Selok Awar-Awar. Beberapa alat berat, kata dia, juga biasanya sibuk digunakan untuk mengeruk pasir. Sekarang sudah menghilang.
Pantauan Beritagar di lokasi, tampak lubang-lubang besar tambang itu dijadikan arena memancing oleh warga. Menurut Rosid, di dekat-dekat lubang itu dulunya adalah kolam ikan gurame dan nila yang beralih fungsi.
Sebagian tanah yang diolah menjadi petak-petak sawah tampak rusak, karena tergenang air laut. Letak tambang sekitar 15 menit dari kediaman Tosan. Untuk menuju ke lokasi tambang agak sulit naik motor karena jalan berpasir.
***
Kondisi kesehatan Anda belum stabil, tapi sudah banyak melakukan kegiatan--seperti menerima tamu sampai malam. Anda tidak khawatir?
Kondisi saya sudah mulai membaik. Saya sedang mengejar penyembuhan. Setiap hari saya menenggak 5 jenis obat, tapi rokok jalan terus. Jangankan dokter, orangtua saya saja tidak bisa melarang saya untuk merokok.
Setelah peristiwa berdarah yang merenggut nyawa Salim Kancil, Anda trauma?
Saya berniat melanjutkan perjuangan. Permintaan saya sederhana: setop mencuri pasir dan membunuh. Bagi saya tidak bertindak sama sekali adalah bukan pilihan. Jika bukan kita yang melawan (penambangan), siapa lagi? I don't like pencuri.
Oh iya. Kenapa Anda suka sekali memakai bahasa Inggris kepada media...
Itu kan bahasa dunia. Satu atau dua kata harus tahu, jangan jadi orang yang nanggung (tertawa).