Minggu, 20 September 2015

Indonesia Banyak Kehilangan Momentum Karena Jokowi Cuma Bisa Pencitraan



Posted by Onlineindo News / Berita, Nasional / 20 September 2015

Masyarakat ke depan diminta lebih cerdas dalam memilih pemimpin dan tidak tertipu pencitraan. Karena seorang pemimpin yang mampu membawa perubahan, tidak cukup mengandalkan pencitraan. Harus juga memiliki wawasan yang luas dan kebijakan yang tepat mengatasi kesulitan-kesulitan yang ada.
“Mudah-mudahan masyarakat lebih cerdas, tak bisa lagi pemimpin kayak sekarang, arahnya tak jelas begini, tidak menimbulkan kepercayaan baik di dalam maupun di luar negeri,” Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Bulan Bintang (DPP PBB) Yusril Ihza Mahendra, di sela-sela orientasi kepengurusan PBB, Sabtu (19/9).
Yusril berpandangan demikian, karena walaupun ada program yang dilaksanakan pemerintah mengatasi keterpurukan ekonomi, tetap tak bisa membangun kepercayaan di tengah masyarakat.
“‎Jadi saya pikir tak bisa lagi kayak kemarin, pencitraan-pencitraan begitu yang tidak menyelesaikan apa-apa. Ketika terjadi kayak sekarang, ekonomi mengalami perlambatan, paceklik, dollar naik, tambang tak bisa dibuka, itu presiden datang terus bagi-bagi, ya tak akan menyelesaikan masalah,” ujarnya.
Pemerintah menurut pakar hukum administrasi negara ini harusnya ‎melahirkan kebijakan yang bisa menyelesaikan masalah, dengan melihat apa yang menjadi akar persoalan.
“Orang kecil di kampung saya, padahal itu daerah yang cukup kuat sebenarnya, tapi untuk melaut angin kencang, kalaupun melaut dapat ikan siapa yang beli, karena daya beli msyarakat menurun luar biasa. Begitu juga kelapa sawit yang dibanggakan, harganya anjlok. Kan harus ada solusinya, jangan jadi presiden kalau hanya datang bagi-bagi beras 5 kilogram,” ujar Yusril.
Saat ditanya pendapatnya atas argumentasi yang menyebut pelemahan ekonomi di tanah air karena pengaruh global, Yusril mengamininya.

“Tapi harus punya kesiapan menghadapi itu. Bukan malah seperti sekarang, semua bertentangan, mau berdikari tapi ketergantungan dengan luar sangat besar. Pinjaman besar dengan dalih invetasi, kita banyak kehilangan momentum dan momentum itu tak bisa terulang lagi,” ujar Yusril. [zul]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar