Mahasiswa, Pemuda, Pedagang Kaki
lima dan buruh kembali mengepung istana. Aksi turun ke jalan yang secara
konsisten setiap minggu dilakukan itu diakui terus mendapatkan simpati dan
apresiasi banyak kalangan
“Indikasi tersebut dapat dilihat
bahwa setiap kali aksi jumlah massa selalu bertambah hal ini mengisyaratkan
bahwa ketidakpuasan masyarakat terhadap rezim pencitraan jokowi-jk makin marak.
Pemerintahan Jokowi-jk dianggap gagal memimpin bangsa dan mengingkari akan
janji-janji kampanyenya,” ungkap Beni Pramula Ketua Umum Ikatan Mahasiswa
Muhammadiyah DPP IMM yang sekaligus Presidium Aliansi Tarik Mandat, Jum’at
(18/9)
“ Aksi kami ini adalah kelanjutan
dari aksi-aksi kami sebelumnya yang secara konsisten kami lakukan hampir setiap
minggu dan kami tidak akan berhenti hingga adanya perubahan mendasar dinegeri
ini. kami dari aliansi tarik mandat dan Solidaritas Nasional Pembebasan
Indonesia dengan berbagai elemen pemuda, mahasiswa dan masyarakat lagi lagi
turun ke jalan menyeru kepada rezim jokowi untuk segera turun dari kursi
jabatannya, karena sudah gagal mensejahterakan Rakyat dan kami telah melalui
diskusi serta kajian yang panjang menilai jokowi-JK sudah tidak mampu lagi
memimpin indonesia,” lanjut Beni.
Masalah mendasar bangsa kita hari
ini, menurut Beni, adalah kepemimpinan nasional yang lemah, kehikangan
orientasi dan tidak mampu memenejerial kepemimpinan dibawahnya. Akibat dari
sentimen ekonomi mengenai pelemahan rupiah yang tidak mampu diantipasi oleh
pemerintah dengan strategi konkrit dalam mengatasi problem ekonomi bangsa.
“Sebagaimana kita tahu bahwa akhir
pekan ini menurut data yang kami dapatkan bahwa angka kemiskinan semakin
meningkat. Karena rilis data kemiskinan kemarin, pagi ini rupiah paling lemah,
sedangkan yang lain menguat seperti yen Jepang, dolar Hong Kong, dolar
Singapura.” Katanya.
Beni menjelaskan : “Badan Pusat
Statistik (BPS) melaporkan jumlah penduduk miskin periode Maret 2015 sebanyak
28,59 juta jiwa baik di perkotaan maupun di pedesaan. Jika dibanding periode
September 2014, angka penduduk miskin tersebut bertambah 860 ribu juwa. Pada
Maret 2014 lalu, jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 27,73 juta orang.
Dari meningkatnya angka kemiskinan, membuat masyarakat menahan niat untuk
berbelanja sehingga mengurangi nilai transaksi. Dampaknya, peningkatan angka
kemiskinan tersebut menjadi sentimen negatif bagi para pelaku pasar dan pelaku
usaha”
Selain ekonomi, Jokowi-JK juga
dinilai gagal membangun negara Indonesia sebagai negara hukum. Hukum tajam
kebawah tumpul keatas. Tunduk terhadap kekuasaan dan elit politik. KPK semakin
lemah, Kewenangan Polri mengusut kasus korupsi juga dilemahkan. Jokowi JK tak
memiliki leadership yang kuat, negara Indonesia bukan lagi negara autopilot,
tapi negara multipilot. Presiden Jokowi tak mampu melepaskan diri dari
kepentingan elit politik dan korporat.
“Inilah hasil dari politik liberal,
yang tak sesuai dengan pancasila dan UUD 1945,” lanjutnya.
Karena itu Aliansi Tarik Mandat dan
Solidaritas Nasional Pembebasan Indonesia menyerukan kepada rezim Jokowi-Jk
menerima tuntutan kami Sebagai berikut:
1. Turunkan Jokowi-Jk.
2. Bubarkan Kabinet yang tidak becus mengurus Negara
3. Segera Reformasi Jilid II
4. Tolak sistem Liberal, turunkan harga, hentikan PHK, dan Luruskan Kiblat Bangsa, Yaitu UUD 1945 dan Pancasila,”
1. Turunkan Jokowi-Jk.
2. Bubarkan Kabinet yang tidak becus mengurus Negara
3. Segera Reformasi Jilid II
4. Tolak sistem Liberal, turunkan harga, hentikan PHK, dan Luruskan Kiblat Bangsa, Yaitu UUD 1945 dan Pancasila,”
Sumber : Sayangi.com
http://onlineindo.tv/news/ribuan-massa-kembali-kepung-istana-desak-mandat-jokowi-jk-dicabut-dan-kabinet-dibubarkan/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar