Rabu, 30 September 2015

Rakyat Desak MPR Adakan Sidang Istimewa untuk Mengimpeach Jokowi



Pakar kemaritiman Indonesia Ongen Vito Corleone pada sosial media twitter membuat beberapa hashtag negatif tentang Jokowi, salah satunya hastag #JokowiTurunDolarTurun yang mengalahkan hashtag tentang tragedi mina. Hari ini, Rabu (30/9) Ongen kembali buat hashtag #ImpeachJokowiJK dan kembali menjadi treding topic.
“Saat yang tepat mainken tagar #ImpeachJokowiJK #ImpeachJokowiJK setuju RT,” tulis akun @ypaonganan.
Ternyata hashtag #ImpeachJokowiJK mendapat banyak dukungan dari para netizen. Bahkan pemilik akun @SahrilRambe menuliskan “Jika ingin mengimpeach Jokowi, Ayo kita desak MPR RI untuk lakukan sidang istimewa,”.
Hashtag-hashtag negatif itu menandakan kekecewaan rakyat terhadap pemerintahan Jokowi JK yang mulai kehilangan kepercayaan, banyak kebijakan-kebijakan yang di ambil Jokowi justru malah menyengsarakan rakyat. [bn

 http://onlineindo.tv/news/rakyat-desak-mpr-adakan-sidang-istimewa-untuk-mengimpeach-jokowi/

Sumber : POSMETRO INFO / BIJAKS

Selasa, 29 September 2015

Koin Untuk Menteri BUNM Yang Telah Berutang Rp 43 Triliun Dengan Jaminan 3 Bank Milik Negera



Utang Rp43 Triliun untuk 3 Bank BUMN, Rini Hendak Jual Indonesia?

Posted by Onlineindo News / Berita, Nasional
 
Pengamat politik Gandhi Sentra Politik (Gaspol) Indonesia Virgandhi Prayudantoro mengatakan langkah Menteri BUMN Rini Soemarno yang melakukan pinjaman utang dari China Development Bank (CDB) sebesar US$ 3 miliar atau Rp. 43 triliun untuk 3 Bank BUMN yakni, Bank BRI, Bank Mandiri dan Bank BNI membahayakan. Pasalnya, dikhawatirkan jika 3 bank BUMN tersebut kelak akan dikuasai 100% oleh asing.

“BUMN adalah pondasi perekonomian Indonesia, dan seharusnya penguasaan kekayaan BUMN dikuasai oleh negara. Jangan memberikan celah bagi asing untuk merebut, karena jika sampai hal tersebut terjadi Indonesia bisa 100% milik asing”, tutur Virgandhi di Jakarta, Jumat (18/09/2015).
Virgandhi menambahkan, sudah cukup BUMN seperti Indosat dan Bank BCA saja yang dikuasai oleh asing, seharusnya pemerintah belajar dari kesalahan yang lalu jangan terlalu membuka lebar kran asing, karena secara historis Indonesia adalah sasaran ‘empuk’ bagi asing dan aseng untuk menguasai kekayaan Indonesia.
“Jokowi-JK semakin hari semakin jauh dari rakyat, semakin melemahkan kedaulatan NKRI. karena tidak menjadikan konstitusi sebagai landasan berbagai kebijakan, maka dari itu berbagai kebijakan Jokowi-JK lebih pro asin. Jika terus seperti ini, bukan tidak mungkin Indonesia hanya tinggal simbol bukan negara”, tutup Virgandhi.

Arab Jauh Kelihatan, Indonesia Dekat Tertutup Asap



Oleh: Soenarwoto Prono Leksono (Penulis Tinggal di Madiun, Jawa Timur)

Ada peribahasa yang sangat akrab di telinga saya sejak remaja; gajah di pelupuk mata tidak kelihatan, kuman di seberang lautan tampak jelas kelihatan. Peribahasa ini sering dikiaskan terhadap kesalahan lain yang mudah diketahui, sedang kesalahan sendiri tidak terasakan.

Maksud sinisnya untuk mengungkapkan tabiat kita yang suka melihat kesalahan lain dan enggan melihat kesalan diri sendiri. Kita memang sering tak menyadari jika diri ini bergelimang salah dan dosa. Kita sering lupa akan keberadaan diri bahwa 'kita dibenihkan dari dosa'.

Ungkapan ini saya beri tanda petik karena hasil mengutip dari Caping (Catatan Pinggir) Goenawan Mohamad -- yang saya lupa judulnya. Ringkasnya, manusia itu tempatnya salah dan dosa. Jadi, kita jangan suka sibuk mencari kesalahan lain.

Prasangka kita kepada lain itu juga belum tentu benar adanya. Hal ini malah akan menambah dosa kita. Naudzubillah. Ups, judul catatan saya di atas ini juga terinspirasi dari peribahasa itu. Cuma sedikit saya plesetkan agar sedap didengarnya. Atau, biar gurih-gurih enak rasanya.

Juga, biar lebih sensasional. Sebab, sekarang media massa, apalagi media sosial (medsos) sukanya mengangkat berita-berita sensasional atau bahkan hoax sekalipun. Alhasil, saya pun mafhum, barangkali ini sudah zamannya.

Tapi percayalah, untuk catatan ini, saya jamin anti-hoax. Ya, catatan saya ini; Arab Jauh Kelihatan, Indonesia Dekat Tertutup Asap. Saya pilih Arab atau ArabSaudi karena hari-hari ini negeri itu jadi tema pembicaraan masyarakat dunia. Bahasa gaulnya, lagi menjadi trending topic.
2. Dan, apalagi jikalau tidak menyoal tentang musibah ambruknya crane di Masjidil Haram dan Insiden Jumrah di Mina --yang menewaskan ratusan jamaah itu-- di musim haji tahun 2015 ini. Dalam menyoal musibah tersebut, kalau boleh saya memilah, ada dua kutup perbedaan kuat di tengah masyarakat.

Kalau boleh saya namai yang satu 'kelompok sedih', dan yang kedua 'kelompok senang'. Untuk kelompok sedih, mereka ini merasa begitu prihatin dan berduka mendalam atas musibah yang menimpa saudaranya seiman di Tanah Suci. Dengan tulus dan ikhlas, mereka ini berdoa untuk korban meninggal sebagai kekasih-Nya.

Dengan tulus dan ikhlas, mereka ini berdoa untuk korban meninggal sebagai syuhada. Dengan tulus dan ikhlas, mereka ini berdoa untuk yang meninggal diangkat pada derajat yang tinggi; di tempatkan di surga-Nya. Allahu Akbar. Penuh simpati dan peduli.

Mereka ini ramai-ramai menggelar shalat ghaib. Mereka ini juga mendoakan keluarga yang ditinggalkan ditambahkan kekuatan iman. Juga, ikut merasa iba dengan Saudi--yang telah berat menanggung amanah berjuta jamaah dari berbagai penjuru dunia.

Mereka ini juga berharap setelah musibah, pemerintah Saudi terus berbenah diri. Meningkatkan kualitas pelayan dan keselamatan jamaah. Mereka ini memberi masukan kepada Saudi dengan santun; tanpa kritik destruktif dan caci maki. Amboi.

Nah, untuk kelompok senang, mereka itu amat girang begitu mendengar musibah terjadi. Itu bisa saya ketahui di sosmed alias sosial media. Mereka itu umumnya musuh Islam atau anti-Arab Saudi. Atau kelompok Islam yang gemar gegeran, memusuhi saudaranya sendiri. Atau lagi, mereka itu yang hendak mengambil kesempatan untuk mengepakkan "misi" dan "kepentingannya" di Saudi.
3. Mendengar musibah terjadi, mereka itu langsung bersorak, "Horeee...ratusan jamaah haji mati saling injak." "Horee...Arab bin unta mampus." "Rasain loe." Begitulah diantara status mereka itu yang saya baca di sosmed. Dan, setelah melakukan selebrasi atas kejadian itu mereka pun atur strategi.

Mereka bilang Saudi tak becus, bahlul, goblok, dan umpatan semacamnya mem-bully Saudi. Lagi-lagi, ini saya ketahui di media. Lalu, ujung-ujungnya mereka menuntut pengelolaan haji dilakukan secara bersama. Ada udang di balik batu rupanya; fulus!

Ini yang menggelikan. Ada sejumlah orang Indonesia meminta agar pemerintah kita ikut mengelola haji. Apa mereka itu tidak salah ucap. Apa tidak dengar atau pura-pura tidak dengar, bahwa mengurus haji (reguler), pemerintah kita dari dulu hingga sekarang tak ada beresnya. Mulai dari daerah sampai pusat konon banyak "kutipan".

Belum lagi soal korupsi dana haji yang terus terjadi. Ampun. Oleh karena itu, mendengar usulan tadi saya cuma mesem. Mesem karena geli saja. Gimana tak geli, melihat orang yang mengaku dirinya pengamat, berbicara begitu entengnya di stasiun televisi mengusulkan itu.

"Indonesia sebagai pengirim jamaah haji dan umrah terbesar di dunia, maka pemerintah Indonesia harus mendesak Saudi untuk kita ikut dalam pengelolaan haji." Kata orang Surabaya, "wong iki ngomong, ta kemu (orang ini bicara, atau berkumur)."

Sebab, sebagai seorang pengamat bicaranya kok asal jeplak. Maaf. Apa tak dipikirkan variabel regulasi yang menyertainya begitu banyak untuk itu. Belum lagi soal kedaulatan negara, bagi Saudi juga bukan perkara gampang untuk membedahnya. Lalu, dipikir mengelola jamaah 2 juta itu mudah.
4. Mengelola jamaah itu bukan hanya setahun sekali di musim haji. Saudi ngurus jutaan jamaah itu nyaris setiap hari dalam pelaksanaan ibadah umrah. Tengoklah sekarang, Indonesia membawa jamaah sedikit saja, ada yang hilang sampai berhari-hari lamanya. Saya baca berita hari ini di media, ada jamaah yang hilang belum diketemukan. Padahal, rombongan haji Indonesia membawa banyak petugas haji.

Jika tak salah, tahun ini ada sekitar 4.000 orang. Ini belum termasuk pelibatan mutawif-- yang sudah jadi mukimin di Saudi. Malah, musim haji sekarang ini ikut langsung menteri agama bersama rombongannya. Namanya rombongan, tentu, banyak pejabat dan orang penting bersamanya. Maaf.

Kalau saya boleh membandingkan, Indonesia mengamankan suporter bola yang masih sebangsa saja, sering ricuh dan tawuran. Sedang jumlah suporter bola paling banyak juga cuma 50 ribu orang. Maka, lalu apa jadinya, jika kita harus mengurus 2 juta jamaah sampai waktu yang hampir 2 bulan lamanya?

"Oalaaah, membagi sembako cuma ratusan orang saja sudah menelan korban jiwa. Kok mau bergaya, ikut ngurus jutaan jamaah," kata seorang jamaah saya membincang "niat hoax" sekelompok pihak ikut dalam pengajian haji itu.

"Betul. Orang Indonesia itu sukanya berlagak. Ngurus diri sendiri saja tidak bisa, mau urus orang lain. Pembagian daging kurban kemarin cuma beberapa orang yang datang, tapi sudah semrawut dan kacau.

Beberapa orang miskin terpaksa dilarikan ke rumah sakit karena pingsan akibat berdesakan berebut daging kurban," timpal jamaah yang lain. Mendengar celoteh jamaah ini saya bukan hanya mesem, tapi kali ini tambah ngeklek. Tertawa terpingkal-pingkal.
5. Sungguh, tidak kuat saya menahan geli dengan semua itu. Lha banyak hal di negeri ini belum beres, kok hendak ngurus tanggung jawab negara lain. Kata orang jawa, "Apa ora ngilo githoke kui (apa tidak bercermin tengkuknya mereka itu)."

Maka, marilah kita urus negeri kita sendiri. Sekarang yang urgen adalah penanggulangan bencana asap. Ini penting. Tak apa kita lupakan sejenak perkara rupiah terus meroket anjlok, ekonomi lemah syahwat, daya beli masyarakat turun-temurun, harga sembako tinggi melonjak-lonjak.

Sebab, ribuan warga di Sumatera dan Kalimantan sekarang sudah susah hidupnya. Bencana asap juga sudah menelan banyak korban. Belum lagi mengganggu penerbangan. Dampaknya juga mengganggu masyarakat negara tetangga; Malaysia, Singapura, Thailand, dan Brunei Darussalam. Dan bencana asap belum bisa dipadamkan, kok jauh-jauh kita hendak ngurusi persoalan di Arab. 


"Ini yang dinamakan Arab jauh kelihatan, Indonesia dekat tertutup asap. Eh keliru, kuman di seberang lautan jelas kelihatan, gajah di pelupuk mata tiada kelihatan," canda saya kepada teman jamaah seusai pengajian Ahad pagi kemarin.

Minggu, 27 September 2015

Motif cari Perhatian Seorang Yang Lagi Galau - Joget “Twerking” Seksi Pakai Sport Bra, Marshanda Panen Kecaman Di Instagram



Marshanda kembali membuat kontroversi. Sabtu (26/9) lalu, kekasih Egy John tersebut mengunggah foto dimana ia bergoyang twerking begitu seksi di sebuah studio fitnes. Bukan itu saja, Marshanda pun hanya mengenakan celana pendek serta bra sport berwarna hitam. Tak ayal, video tersebut pun panen hujatan dari pengguna media sosial.

Marshanda dibully habis-habisan setelah mengunggah foto dirinya goyang seksi dengan pakaian minim. Video dengan durasi kurang dari satu menit ini mengundang keprihatinan pengguna media sosial pada ibu satu anak tersebut. Pasalnya, dulu Marshanda dikenal menggunakan jilbab tertutup. Bahkan mantan istri Ben Kasyafani itu sempat menjadi penceramah sekaligus berdakwa.
Perubahan penampilan Marshanda setelah bercerai dan berpacaran dengan aktor Egy John mengundang kecaman. Puncaknya pada video seksi dimana Marshanda terlihat hanya mengenakan bra dengan celana pendek.

Beberapa komentar di instagram Marshanda meminta mantan artis cilik tersebut untuk kembali bertobat. Beberapa bahkan menyangkut pautkan prilaku Marshanda saat ini dengan penyakit mental Bipolar Disorders yang diakui ia derita.

Sabtu, 26 September 2015

Ternyata Ada Sebuah Kebohongan dibalik Foto Proklasmi, Ini Faktanya



Diposkan pertama kali oleh Susan Merah

Tanggal 17 Agustus 1945 merupakan hari besar kemerdekaan bangsa Indonesia. Pada tanggal tersebut, merupakan hari paling bersejarah negeri ini karena di hari itulah merupakan awal dari kebangkitan rakyat Indonesia dalam melawan penjajahan sekaligus penanda awalnya revolusi. Oleh karena itu setiap tangga; 17 Agustus selalu diadakan upacara memperingati kemerdekaan Indonesia yang dilaksanakan diseluruh penjuru Indonesia mulai dari desa hingga tingkat Nasional. Biasanya pada upacara peringat HUT Republik Indonesia selalu dilaksanakan detik-detik proklamasi yaitu pukul 10.00 untuk mengenang pristiwa yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945 dimana pada saat itu Indonesia memprolkamirkan dirinya menjadi sebuah bangsa merdeka yang dipimpin oleh Soekarno dan Moh.Hatta.

Peristiwa Proklamasi  bangsa berhasil didokumentasikan melalui beberapa foto yang sering kita lihat saat ini. Namun tahukah kamu ternyata ada kebohongan dibalik foto proklamasi tersebut? benarkah begitu? Yuk ikuti penelusurannya yang dikutip dari Palingseru. CEKIDOT. . .

Tepat pada pagi bulan ramadhan, Jum’at 17 Agustus 1945, ada peristiwa penting di kediaman Soekarno, yang ternyata diketahui terlebih dahulu oleh seorang fotografer Frans Sumarto Mendur melalui sumber dari Harian Asia Raya.Bersama dengan abangnya yang bernama Alexius Impurung Mendur pun segera menuju ke lokasi di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Cikini, Jakarta, tepat pukul 05:00 pagi.
Kemudian, peristiwa penting pun dilaksanakan pada pukul 10:00, yang ternyata Soekarno dan Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Upacara proklamasi kemerdekaan berlangsung sederhana, tanpa protokol.

Seperti dilansir Viva.co.id, Frans berhasil mendapatkan tiga buah foto peristiwa penting tersebut. Foto pertama, ketika Soekarno membaca teks proklamasi. Foto kedua, pengibaran bendera Merah Putih oleh Latief Hendraningrat, anggota PETA. Foto ketiga, suasana upacara dan para pemuda yang menyaksikan pengibaran bendera.

Berbohong demi Sejarah Bangsa
Setelah upacara tersebut selesai, Mendur bersama abangnya pun bergegas meninggalkan lokasi. Namun, sayangnya sang abang berhasil ditangkap oleh tentara Jepang dan kemudian menyita foto-foto yang baru saja dibuat.
Sedangkan adiknya, berhasil meloloskan diri dan mengubur negatif foto di tanah dekat sebuah pohon di halaman belakang kantor harian Asia Raya.Saat tentara Jepang mendatanginya, Frans berbohong, ia mengatakan bahwa negatif foto sudah diambil Barisan Pelopor.

Setelah negatif foto berhasil di cetak, Frans tidak langsung mempublishkan foto tersebut bersama dengan berita tentang Proklamasi kemerdekaan Indonesia. Alhasil, berita tentang Proklamasi kemerdekaan Indonesia hanya diberitakan singkat di harian Asia Raya, 18 Agustus 1945. Tanpa foto karena telah disensor Jepang.

Namun, BM Diah bersama beberapa temannya berhasil merebut percetakan De Unie dan mendirikan Harian Merdeka. Dan untuk pertama kalinya, foto bersejarah tersebut dipublikasikan tepat pada 20 Februari 1946.