Reporter : Eko
| Jumat, 18 Maret 2016 09:02
Ilmuwan Besar Perancis Peluk Islam Usai Bedah Mumi Firaun
Maurice Bucaille lahir,
besar dan sepenuhnya menimba ilmu di Perancis. Setelah menamatkan pendidikan
menengah atas, ia belajar di Fakultas Kedokteran, Universitas Prancis. Kemudian
menjadi dokter bedah terkenal dan terpintar yang pernah dimiliki Perancis
modern. Namun, cerita keislamannya mampu mengubah hidupnya dan belakangan
menginspirasi banyak orang. Siapa sang profesor yang sangat dikagumi ini,
silahkan baca profilnya di sini http://bit.ly/1sAIenf
Apa saja hasil karya sang profesor dan bagaimana
cara dia menemukan Islam dan dunia keilmuan silahkan baca pada tautan ini http://bit.ly/1lTkkf3
Sebagaimana luas diketahui, Perancis terkenal
sebagai negara yang tertarik dengan arkeologi dan budaya. Di akhir 80an,
Perancis meminta Mesir untuk mengirimkan mumi Firaun untuk dilakukan
serangkaian eksperimen dan penelitian.
Akhirnya mumi penguasa Mesir terkenal tersebut
akhirnya tiba di Perancis. Mumi itu kemudian dipindahkan ke ruangan khusus di
Monument Center. Para arkeolog, ahli bedah dan ahli anatomi mulai melakukan
studi tentang mumi ini dalam upaya untuk menyelidiki misteri Firaun.
Dokter bedah senior dan ilmuwan yang bertanggung
jawab atas studi tentang mumi Firaun adalah Profesor Maurice Bucaille.
Sementara proses restorasi mumi berjalan, Maurice Bucaille sibuk dengan
pikirannya. Dia mencoba untuk menemukan bagaimana Firaun ini meninggal.
Saat larut malam, ia menemukan penyebabnya.
Sisa-sisa garam yang terjebak dalam tubuh mumi itu adalah bukti bahwa ia
meninggal karena tenggelam dan mayatnya segera diangkat dari laut.
Terlihat jelas juga bahwa para pendeta Mesir kuno
buru-buru mengawetkan tubuh Firaun tersebut. Tapi Maurice bingung dengan sebuah
pertanyaan, bagaimana tubuh ini--dengan mengesampingkan tubuh mumi lainnya dari
Mesir kuno-- tetap utuh hingga sekarang meskipun tubuhnya pernah tenggelam di
laut.
Maurice sibuk memikirkan hal tersebut ketika
seorang koleganya mengatakan tidak usah terlalu dipikirkan karena dalam Islam
disebutkan bahwa Firaun ini memang tenggelam.
Pada awalnya, dia sangat tidak yakin dan menolak
pernyataan tersebut. Dia mengatakan penemuan seperti itu hanya bisa diketahui
melalui peralatan komputer canggih dan modern.
Maurice bertambah tercengang setelah koleganya
yang lain mengatakan bahwa Alquran, kitab suci yang dipercaya muslim,
menceritakan kisah tenggelamnya Firaun dan mengatakan tubuh tersebut akan tetap
utuh meskipun ia telah tenggelam.
Maurice bertambah terkejut dan terus
bertanya-tanya, dari mana kitab suci umat Islam ini mendapatkan data, sementara
mumi tidak ditemukan sampai 1898. Selain itu Alquran juga baru diturunkan
kepada umat Islam selama lebih dari 1400 tahun setelah peristiwa tenggelamnya
Firaun. Mengingat juga sampai beberapa dekade lalu seluruh umat manusia
termasuk muslim tidak tahu bahwa orang Mesir kuno mengawetkan firaun mereka?
Maurice Bucaille terjaga sepanjang malam menatap
tubuh Firaun, berpikir mendalam soal kitab Alquran yang secara eksplisit
mengatakan bahwa tubuh ini akan utuh setelah tenggelam.
"Bisakah dipercaya nabi Muhammad SAW tahu
tentang ini lebih dari 1.000 tahun yang lalu ketika saya baru saja mengetahu
hal itu?" pikir Maurice.
Pikiran Maurice malam itu dipenuhi berbagai
pertanyaan dan keheranan tentang kitab suci umat Islam. Mumi tersebut akhirnya
dikembalikan ke Mesir.
Jatuh Cinta dengan Alquran
Tapi, karena ia sudah tahu tentang kisah Firaun
versi muslim, ia segera berkemas dan melakukan perjalanan ke Arab Saudi.
Kebetulan saat itu di Arab Saudi diadakan konferensi medis yang dihadiri banyak
ahli anatomi muslim.
Di sana, Maurice memberitahu mereka tentang
penemuannya, yaitu bahwa tubuh Firaun itu tetap utuh bahkan setelah ia
tenggelam. Salah satu peserta konferensi membuka Alquran dan membacakan surat
Yunus ayat 92 yang menceritakan kisah bagaimana tubuh Firaun diangkat dari dasar
laut dan atas izin Allah, tubuh itu akan utuh agar menjadi bahan renungan bagi
orang-orang yang berpikir sesudahnya.
Dalam kegembiraannya setelah dibacakan ayat
tersebut, Maurice berdiri di hadapan para peserta konferensi berkata, 'Aku
telah masuk Islam dan percaya pada Alquran ini'.
Saat kembali ke Perancis, Maurice Bucaille
menghabiskan 10 tahun melakukan studi tentang kesesuaian fakta-fakta ilmiah
saat ini dengan yang disebutkan dalam Alquran. Dia berusaha meyakinkan dirinya
bahwa Alquran tidak pernah bertentangan dengan satupun fakta ilmiah.
Dia kemudian menulis buku tentang Alquran yang
menghebohkan seluruh negara-negara Barat, dengan judul, "The Bible, The
Qur’an and Science, The Holy Scriptures Examined In The Light Of Modern
Knowledge."
Buku tersebut sangat laris dan bahkan ratusan
ribu eksemplar telah diterjemahkan dari bahasa Perancis ke bahasa Arab,
Inggris, Indonesia, Persia, Turki dan Jerman. Bahkan tersebar ke hampir semua
toko buku di seluruh dunia.
"Sisi ilmiah dari Alquran telah mengejutkan
saya sejak awal, karena pikiran saya belum pernah melihat begitu banyak kajian
ilmu pengetahuan yang disuguhkan secara akurat. Itu semacam cermin bagi ilmu
pengetahuan yang sudah ditulis dalam buku-buku ilmiah selama ini padahal ilmu
tersebut sudah ada lebih dari 13 abad yang lalu," sepenggal catatan kata
pengantar Maurice dalam bukunya.
(Sumber: Onislam.net)
Capres AS: Piramida Dibangun Nabi Yusuf, Bukan Makam Firaun
Pernyataan
mengejutkan dikeluarkan oleh salah satu bakal calon presiden Amerika Serikat,
Ben Carson. Dia menyebut piramida di Mesir dibangun oleh Nabi Yusuf untuk
menyimpan biji-bijian atau bahan makanan. Bukan sebagai kuburan Firaun.
Pernyataan itu disampaikan peserta konvensi
Partai Republik ini pada tahun 1998 di Andrew University. Video tersebut
diunggah ke Buzzfeed pada Rabu kemarin.
"Teori pibadi saya bahwa Yusuf membangun
piramida untuk menyimpan biji-bijian,” kata Carson, sebagaimana dikutip Dream dari
laman Al Arabiya, Kamis 5 November 2015.
Teori ini jelas berbeda dengan apa yang diyakini
oleh sebagian besar orang. Terutama para arkeolog yang meyakini piramida
merupakan kuburan para raja Mesir alias Firaun.
“Sekarang semua arkeolog berpikir bahwa
piramida-piramida dibuat untuk kuburan Firaun. Tapi, Anda tahu, itu akan
menjadi sesuatu yang sangat besar jika Anda berhenti dan berpikir tentang hal
itu," ujar dia.
Menurut Carson, piramida sengaja dibangun dengan
banyak kamar yang tertutup rapat. Disain itu dibuat seperti itu untuk berbagai
alasan.
"Dan berbagai ilmuwan mengatakan, ‘Ya, Anda
tahu ada makhluk asing yang datang dan mereka memiliki pengetahuan khusus dan
itulah, Anda tahu, ini tidak memerlukan makhluk alien ketika Tuhan bersama
Anda,” tambah Carson.
Nabi Yusuf AS merupakan putra Nabi Yakub. Nabi
Yusuf diangkat menjadi bendahara kerajaan oleh raja Mesir dan diberi kewenangan
mengurusi keuangan dan persediaan makanan. (Ism)
Ditemukan, Makam Permaisuri Firaun
Tim arkeolog dari
Mesir dan Prancis menemukan makam yang diduga milik permaisuri Firaun di
kawasan Luxor. Para arkeolog yakin kuburan itu milik Ratu yang hidup pada masa
Periode Ramses.
“Penelitian sedang dilanjutkan untuk menentukan
nama Firaun yang dia nikahi,” demikian pernyataan Kementerian Kepurbakalaan
Mesir sebagaimana dikutip Dream dari Al Arabiya,
Sabtu 13 Desember 2014.
Untuk diketahui, pada Periode Ramses –Dinasti
ke-19 [1314 hingga 1200 sebelum masehi] dan Dinasti ke-20 [1200 hingga 1085
sebelum masehi]– ada 11 Raja yang bergelar Ramses.
Di dalam makam yang ditemukan itu, para arkeolog
menemukan pecahan 20 patung penguburan yang bertuliskan nama “Karomama”. Para
arkeolog berharap nama itu bisa membantu mempersempit pencarian identitas sang
Ratu.
“[Petunjuk itu] Akan membantu lebih mengetahui
banyak tentang orang penting ini.”
Luxor merupakan wilayah di tepi Sungai Nil yang
berada di selatan Mesir. Lokasi itu merupakan sebuah “museum terbuka” yang
banyak ditemui kuil dan makam dari Mesir kuno.
Ditemukan, Kuil Usia 3.400 Tahun Peninggalan Firaun
Sekelompok pemuda
menemukan kuil tua di bawah sebuah rumah yang terletak di wilayah selatan
Kairo, Mesir. Kuil yang ditemukan pada Rabu kemarin itu diduga merupakan
sisa-sisa peninggalan Raja Thutmosis III dan sudah berusia 3.400 tahun.
Menurut laman Al Arabiya, Kamis 30
Oktober 2014, selain kuil, benda-benda lain yang ditemukan antara lain tujuh
tablet, beberapa kolom dari batu garnit berwarna pink dan patung yang juga
terbuat dari granit.
Menteri Bidang Kepurbakalaan Mesir, Mamdouh
al-Damaty, mengatakan kuil itu ditemukan oleh tujuh pria yang tengah melakukan
penggalian ilegal di Al-Badrashin, yang berjarak 40 kilometer dari Kairo. Para
penggali itu menggunakan peralatan selam dan mengelilingi kuil yang berada di
dalam air tanah setelah mereka melakukan penggalian sedalam 9 meter.
Pengalian ilegal dan penyelundupan benda-benda
purbakala di Mesir memang marak. Pencurian dan penyelundupan benda-benda
bersejarah semakin meningkat sejak 2011, sejak tergulingnya Presiden Husni
Mubarak.
Tim ahli dari kementerian kemudian mengambil alih
penggalian itu. Sementara ketujuh pria yang melakukan penggalian secara ilegal
tersebut ditahan. Namun kemudian dilepaskan lagi karena wilayah itu belum
ditetapkan sebagai peninggalan nasional.
"Kami akan memulai proyek penggalian di
wilayah itu untuk menemukan peningalan-peningalan lain," tutur Damaty.
(Ism) [crosslink_1]



Tidak ada komentar:
Posting Komentar