Rabu, 30 Maret 2016

Biarkan aku bercumbu bersama bayang-bayangmu



by Helmi Rifani 

Disaat aku menenun aksara untuk benang benang rindu, hingga menjadi selimut malam, ketika balutan mimpi kucoba merebahkan sejuta rasa dalam dekapanmu, kubercumbu dengan rindu, biarkan hujan mengubur kita bersatu dalam kehangatan cinta, peluklah aku dalam racikan rindu, agar kulebur dengan penuh rasa cinta, namun ketika aku tersentak dari mimpi mimpi yang luruh, aku terkapar dalam kegelapan malam



Ketika mentari enggan tersenyum, disaat langit kutatap awanpun seperti cemas, dengan tertatih tatih aku membasuh wajah dengan tetesan embun, terlalu lelah batin ini mengendong rasa sepi berkalung rindu, diantara lembaran hujan gerimis yang menyapu lembut wajahmu, walau aku sudah mengukur jarak dan waktu, tuk mengejar sayap sayap cinta, aku coba menitipkan rindu pada dedaunan, agar setiap saat angin berhembus lembut, segala rasa yang berkecamuk, dan engkau bisa merasakan dengan senyum kebahagiaan



Perlahan lahan engkau hujamkan dan engkau lucuti sejuta rasa yang sudah mulai berwarna, bersama hujan dan air mata kian luruh dan mengambang, aku terpasung dan terperangkap rasa kesepian berkalung rindu yang menggerogoti batin ini, bila puisi hati tidak dapat juga mewakili perasaan, biarkan aku bercumbu dan melacurkan diri dengan bayang bayangmu di alam mimpi, tanpa harus menderita dan terluka


Hari hari kulewati dengan membasuh luka yang tersayat rindu, dan kupungut sisa sisa rindu yang berserakkan, bayang bayangmu pergi tanpa meninggalkan jejak, membuat aku bersenandung kesepian berkalang rindu, langitpun tak mau tersenyum, melihat perpisahan ini, aku terdiam dan terpaku, betapa indahnya disaat memadu kasih, namun betapa nyerinya disaat engkau melambaikan tangan disaat perpisahan terakhir ....
BANJARMASIN-30-MARET-2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar