Wakil Presiden Jusuf Kalla berharap para pengusaha dua
organisasi Islam besar di Indonesia, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah saling
melengkapi untuk membangun kekuatan perekonomian nasional dan umat muslim pada
khususnya.
Menurut dia, dua organisasi Islam tersebut memiliki kekuatan yang tidak sama, namun bisa saling melengkapi. Muhammdiyah, menurut Kalla, memiliki kekuatan dalam aspek managerial usaha, sementara NU lebih menonjol dalam aspek praktik berwirausaha secara perorangan.
Ia mengibaratkan Muhammadiyah seperti "Holding Company" yang menaungi banyak cabang usaha, seperti rumah sakit, serta kampus, dengan aset yang besar. Sementara NU seperti usaha waralaba yang ditunjukkan dengan banyaknya yayasan sekolah, namun tidak menyatu, melainkan dimiliki masing-masing kiai.
"Jika NU disuntikkan kemampuan managerial tentu akan menjadi kekuatan usaha yang sama-sama hebat. Biar dua sistem itu berjalan bersama-sama menjadi kekuatan umat," kata Kalla.
Menurut Kalla semangat kewirausahaan perlu terus dibangun di internal dua organisasi itu dengan mencontoh para pendirinya, seperti KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asyari yang melakukan dakwahnya dengan berdagang.
Apalagi, menurut dia, terbentuknya corak Islam yang moderat di Indonesia juga tidak terlepas dari peran para ulama yang merangkap sebagai pengusaha atau pengusaha yang merangkap sebagai ulama.
"Karena pengusaha itu selalu ingin jalan tengah dan tidak ingin bentrok dengan siapa saja," kata dia.
Menurut Wapres, pemerintah akan selalu memberikan dukungan tumnbuhnya wirausahawan baru dengan memberikan berbagai kemudahan antara lain dengan menurunkan bunga kredit usaha rakyat (KUR).
"Kami turunkan dari 12 persen menjadi 9 persen dan tahun depan insya Allah menjadi 7 persen," kata Kalla.
Temu Jaringan Saudagar Muhammadiyah tersebut merupakan tindak lanjut dari hasil Muktamar ke-47 Muhammadiyah tahun 2015 di Makassar sekaligus menjadi ajang pertemuan sebanyak 400 para pelaku usaha serta pakar ekononomi Muhammadiyah se-Indonesia.
Sejumlah topik yang akan dibicarakan dalam kegiatan Temu Jaringan Saudagar Muhammadiyah yang bersamaan dengan Rapat Kerja Nasional Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan PP Muhammdiyah itu di antaranya terkait peran ekonomi syariah sebagai alternatif penyelesaian masalah bangsa, ekonomi regional sebagai pendorong perekonomian nasional, serta revitalisasi aset ekonomi sebagai penguatan dakwah Muhammadiyah.

adu ayam bangkok
BalasHapus