Arie Dwi Satrio
JAKARTA - Tragedi berdarah pada 12 Mei 1998
yang terjadi tepat di depan Kampus Trisakti, Jakarta Barat, menyisakan luka dan
duka yang mendalam, serta catatan sejarah buruk bagi bangsa Indonesia.
Pasalnya,
dalam peristiwa tersebut belasan orang terluka dan empat mahasiswa Trisakti
tewas dalam aksi unjuk rasa yang mayoritas dipelopori oleh kalangan intelektual
untuk menumbangkan rezim orde baru.
Tepat pada
hari Kamis (12/5/2016), 18 tahun sudah catatan sejarah tersebut terlewatkan.
Namun memang belum ada titik cerah dalam mengungkap siapa dalang yang
bertanggungjawab atas terjadinya insiden berdarah tersebut.
Berawal dari
gelombang besar aksi massa di sejumlah daerah Indonesia untuk menurunkan
kepemimpinan Soeharto yang sudah menginjak usia 31 tahun. Dan pada akhirnya
gelombang aksi massa tersebut juga diikuti oleh para mahasiswa di Ibu Kota.
Menanggapi
isu politik atas krisis global yang membawa Indonesia ke dalam pergulatan
tersebut juga menjadi isu utama yang dibawa oleh mahasiswa Trisakti dalam aksi
unjuk rasa yang digelar di depan kampusnya pada Selasa 12 Mei 1998 siang.
Ribuan
mahasiswa Trisakti dengan mengenakan almamater kampusnya melakukan aksi turun
ke jalan tepat di depan kampus mereka dengan cara memblokir ruas jalan yang
melintas depan kampus pada siang hari sekira pukul 11.00 WIB.
Berbagai
pekik revolusi serta beberapa tuntutan disuarakan para demonstran tepat di
jalan depan Kampus Trisakti dan berlangsung hingga senja tiba. Aksi tersebut
sempat mendapat pengawalan ketat dari pihak kepolisian juga tentara yang
menginginkan agar aksi tersebut tak berlanjut hingga malam hari.
Alhasil,
setelah dilakukan negosiasi dengan aparat berseragam pada sore hari, para
mahasiswa pun bergerak mundur hingga masuk ke dalam kampus. Namun, tiba-tiba
suara tembakan terdengar dari seberang jalan depan Kampus Trisakti.
Suasana pun
pecah dan memanas akibat aksi tembakan oleh jajaran aparat berseragam ke arah
mahasiswa dengan membabi buta. Serangan balasan pun dilakukan oleh para
mahasiswa dengan memakai alat seadanya seperti batu dan bambu.
"Pas
lagi jalan mundur ke gerbang jarak 5 sampai 10 menit ditembakin oleh mereka
yang berseragam, kondisi kacau balau. Mahasiswa balas lempar batu, ditembakin
membabi buta, rusuh sekitar 20 menit," ujar Haris Azhar salah seorang mahasiswa
Trisakti yang ada di lokasi kejadian pada saat itu.
Koordinator
Komisi Untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS) tersebut juga
menceritakan setelah hampir 15 menit terjadi serangan tembakan dari jajaran
aparat berseragam, para korban pun mulai terlihat berjatuhan.
"15
menit kemudian dapat kabar ada yang ketembak, yang luka banyak, yang meninggal
empat, sampai saat ini para saksi mata juga masih hidup," katanya.
Bentrokan
antara pihak jajaran aparat berseragam dengan mahasiswa tersebut akhirnya
mereda setelah selang hampir sekira setengah jam, dan setelah diketahui adanya
korban yang berjatuhan dari para mahasiwa, akhirnya korban pun dilarikan ke
rumah sakit.
Dikabarkan
tiga mahasiswa Trisakti tewas di tempat, sedangkan satu mahasiswa tewas setelah
dibawa ke rumah sakit. Dari total empat mahasiswa yang tewas tersebut mereka
diketahui bernama Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan
Hendriawan Sie.
Mereka tewas
tertembak di dalam kampusnya usai terkena peluru tajam di bagian kepala,
tenggorokan, dan dada.
Tragedi
berdarah di kampus Trisakti tersebut saat ini sudah memasuki usia yang ke 18
tahun dan sempat menjadi kecaman dari berbagai pihak atas arogansi aparat
berseragam yang bertindak represif terhadap mahasiswa.
Aksi massa
dari kelompok mahasiswa yang menuntut Presiden Soeharto mundur saat itu,
sebenarnya bukan hanya terjadi di Jakarta. Hampir seluruh elemen mahasiswa di
seluruh penjuru Indonesia waktu itu juga berunjuk rasa menuntut hal serupa. (Fid)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar