Tempo.co
Puluhan organisasi massa yang tergabung dalam Gerakan Masyarakat Jakarta (GMJ) berencana menggelar unjuk rasa di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, Senin, 4 April 2016.
Mereka hendak meminta KPK untuk mengusut dugaan keterlibatan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama biasa dipanggil Ahok dalam sejumlah kasus korupsi.
Massa mulai berdatangan pada pukul 07.00 WIB dan berkumpul di Masjid Tangkuban Perahu, Jakarta Selatan.
Ada dua truk dan sejumlah mobil yang disiapkan di tempat itu. Sejumlah perlengkapan, seperti bendera dan spanduk bertuliskan "Tidak Usah Takut Pada Ahok" juga mulai dibagikan kepada peserta unjuk rasa.
"Kami mau menegakkan keadilan, meminta KPK memfungsikan kinerja semua karena yang namanya koruptor harus ditangkap, khususnya Ahok," kata Ketua Umum GMJ Fahrurrozi Ishaq, menjelaskan tujuan mereka berunjuk rasa.
Fahrurrozi mengatakan kasus dugaan korupsi yang melibatkan Ahok kini mulai bertambah. Bermula dari pembelian lahan Rumah Sakit Sumber Waras sampai masalah reklamasi.
"Kan ada korelasi antara legislatif dan eksekutif. Legislatif sudah ditangkap, kok Ahok kagak ? Kenapa ya?" katanya sambil tertawa kecil.
Fahrurrozi mengklaim ada sekitar 2.000 orang yang akan berunjuk rasa. Organisasi yang ikut berpartisipasi, antara lain Front Pembela Islam, Forum Betawi Rempug, Forum Betawi Bersatu, dan Forum Umat Islam.
Selain ke KPK mereka juga akan mendatangi gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DKI Jakarta.
"Ahok dalam angket itu sudah dijelaskan kesalahan dan pelanggaran etika, kenapa enggak digelar paripurna untuk pemakzulan, makanya kami minta DPRD, ayolah jalan, apa under table kan enggak tahu," kata Fahrurrozi.
Tak hanya didominasi para pria, sekitar puluhan ibu-ibu dari Petamburan yang tergabung dalam Mujahidah Pembela Islam (MPI), juga ikut berunjuk rasa dengan mengenakan gamis dan kerudung putih.
"Mau ke KPK untuk menegur KPK agar segera menangkap Ahok," kata Umroh, Ketua Umum MPI. Umroh mengaku heran dengan sikap KPK yang belum memproses laporan mereka terkait dengan pembelian lahan RS Sumber Waras.
Ia pun menduga komisi antirasuah melakukan tebang pilih. "KPK kan Komisi Pemberantasan Korupsi, jangan-jangan dapat komisi, kalau korupsi sedikit kan enggak ada komisi, kalau ini komisinya kan banyak mungkin," ujarnya.
Sementara itu, menurut Bintara pembinaan dan keamanan ketertiban masyarakat Kepolisian Sektor Metro Setiabudi Ajun Inspektur Polisi Satu Kardan, akan ada gabungan patroli dari Polsek Setiabudi untuk mengamankan wilayah aksi.
"Yang penting aman dan tertib, tidak ganggu masyarakat," ucapnya. FRISKI RIANA

Tidak ada komentar:
Posting Komentar