Di halaman hotel, sekitar 100 orang lebih menunggunya, di balik barikade pengaman dan penjagaan ketat polisi Belanda. Walau berada dalam barisan yang sama, aksi massa itu terbagi tiga dengan kepentingan yang berbeda.
Di sebelah kanan, tampak orang-orang yang mengibarkan bendera merah putih. Mereka adalah warga Indonesia pendukung Presiden Jokowi di Belanda. Dengan semangat mereka menyanyikan yel-yel yang mendukung Jokowi dan melantunkan lagu perjuangan Indonesia, sebagaimana dilaporkan oleh wartawan Indonesia di Den Haag, Rika Theo.
Di
sebelahnya, kontras berdiri para aktivis, pelajar, dan eksil yang menyuarakan
tuntutan untuk rekonsiliasi dan pengungkapan kebenaran tragedi 1965.
"Tak
satu pun dari kami, para eksil, yang diundang dalam pertemuan masyarakat dengan
presiden kemarin, padahal beberapa dari kami sudah mendaftar, tapi undangan tak
datang. Maka lewat aksi ini kami menyatakan aksi kami," kata Sungkono,
seorang eksil yang tinggal di Belanda setelah tragedi 1965 membuatnya tak bisa
kembali dari Moskow ke tanah air.
Anak muda
Para eksil
yang tergabung dalam Perhimpunan Persaudaraan Indonesia ini bertekad menyampaikan
surat terbuka kepada presiden hari ini.
"Simposium
di Jakarta positif karena korban bisa ngomong. Tapi lebih penting
pelaksanaannya. Kalau pemerintah tak mau minta maaf itu melanggengkan
impunitas. Rekonsiliasi itu harus jelas, siapa pelaku dan korban. Kalau tidak
mengaku salah, bagaimana kita harus memaafkan," ujarnya.
- Jokowi senang desainer Indonesia tangkap tren internasional
- Presiden Jokowi ingin Inggris tak keluar dari Uni Eropa
- Presiden Joko Widodo lanjutkan kunjungan di Eropa
Sementara di
barisan paling kiri, sekelompok orang yang lain mengibarkan bendera Republik
Maluku Selatan dan bendera Papua Merdeka. Keduanya menuntut agar Jokowi
menegakkan hak asasi manusia di Maluku dan Papua. Uniknya, tak terlihat satu
pun anak muda di antara para pendemo di barisan ini. Ini ternyata lantaran
antisipasi keamanan dari pemerintah Belanda
.
"Hanya
yang 60 tahun ke atas yang boleh masuk di sana. Itu politik Belanda, mereka
takut terjadi sesuatu lagi. Padahal kami punya pikiran sekarang demonstrasi modern,
bukan lempar batu sepeprti dulu lagi," kata Ferry Rinsampessi, juru bicara
demonstrasi RMS dan Papua Merdeka hari ini.
Alhasil, para anak muda pun harus menggelar aksi sendiri tepat di seberang
hotel Kurhaus dengan penjagaan ketat dari polisi Belanda.Seorang ibu yang membawa bendera Papua dengan kesal harus melepaskan bendera dari tongkatnya. Jika tidak, polisi tak mengizinkannya masuk barisan.
Akhirnya seorang pendemo lain membawakan buluh untuk memasang benderanya sehingga ia pun diperbolehkan masuk.
Kunjungan Presiden Joko Widodo ke Belanda ini merupakan rangkaian dari lawatan ke empat negara di Eropa. Sebelumnya, Jokowi berkunjung ke Jerman, Inggris, dan Belgia.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar