Ahmad Taufik - Rabu, 16 Maret 2016 - 12:33 wib
TEHERAN – Para pejabat Iran dan analis berspekulasi tentang alasan Presiden Rusia Vladimir Putin yang tiba-tiba memutuskan menarik pasukan dari Suriah. Sebagian orang menduga terdapat strategi besar pada penarikan tersebut yang dimana Rusia dianggap telah memenangkan konsesi dengan Amerika Serikat dan oposisi Suriah.
Meski demikian, sebagian besar tampaknya berpikir bahwa penarikan militer Rusia adalah tanda positif, atau setidaknya tindakan yang tidak perlu dikhawatirkan.
Sebagaimana dikutip dari Al-monitor, Rabu (16/3/2016), Ali Akbar Velayati, penasihat kebijakan luar negeri Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, berbicara kepada wartawan Iran pada Selasa 15 Maret setelah mengadakan konferensi pers dengan Wakil Menteri Luar Negeri Suriah Faisal Mekdad di Iran.
Menurut media Iran, Velayati mengatakan bahwa dalam pertemuannya dengan Mekdad, mereka membicarakan pembelaan terhadap integritas wilayah Suriah dan pemilihan parlemen pada 13 April.
Ketika ditanya apakah pasukan Iran akan menggantikan pasukan Rusia yang meninggalkan Suriah, Velayati mengatakan bahwa tindakan Negeri Beruang Merah tidak akan mengubah kerjasama antara Iran, Rusia, Suriah, dan pasukan sekutu seperti Hizbullah.
Velayati mencatat bahwa Rusia masih memiliki pangkalan udara di Suriah, dan jika perlu mereka dapat kembali melakukan perlawanan terhadap teroris. Selain pangkalan udaranya, Rusia juga dilaporkan masih menjaga basis maritim yang beroperasi di Suriah, dan hampir 1.000 personel militer akan tetap berada di negara itu.
Laman Iran Entekhab mengeluarkan komentar serupa yang dibuat pada 15 Maret oleh Menteri Informasi Suriah Omran al Zoubi di televisi Suriah. "Tidak ada perubahan yang terjadi dalam hubungan politik dan militer antara Rusia dan Suriah."
Dalam
konferensi pers di Australia pada hari yang sama, Menlu Iran Mohammad Javad
Zarif mengatakan bahwa penarikan pasukan Rusia adalah tanda positif karena itu
berarti Moskow merasa tidak lagi perlu menggunakan opsi militer untuk
mempertahankan gencatan senjata.
Mehdi Mohammadi,
penasihat garis keras mantan perunding nuklir Saeed Jalili, percaya bahwa
karena tingginya kemungkinan berjalannya gencatan senjata, Rusia akhirnya
memutuskan menarik beberapa pasukan dari Suriah karena biaya penyediaan pasukan
operasional. Dia menambahkan bahwa pasukan yang masih bertahan saat ini di
Suriah sudah cukup untuk melakukan serangan terhadap kelompok teroris.
Mohammadi
menulis dalam Tansim 15 Maret bahwa Rusia telah memberi tahu Damaskus dan
Teheran tentang rincian penarikan pasukan. Pertanyaan utama, menurut Mohammadi,
adalah "Kesepakatan apa yang telah dilakukan antara Amerika dan pihak
oposisi di Suriah sehingga Rusia sepakat menarik pasukannya?"
Mohammadi,
tanpa menentukan kepada siapa ia mungkin mengacu, menambahkan, "Apa pun
itu, ada strategi besar di balik peristiwa ini."
Terlepas
dari penarikan pasukan Rusia, analis Iran dan media percaya bahwa aksi ini
bukan akhir dari keterlibatan militer Rusia di Suriah. Ramin Hossein-Abadian
menulis untuk Kantor Berita Mehr: "Tanpa diragukan lagi, dukungan pasukan
udara dan laut Rusia... akan terus berlanjut."
Dukungan
Iran untuk Suriah juga tidak diragukan lagi. Dalam pertemuan dengan Mekdad 15
Maret parlemen Ali Larijani mengatakan, "Masa depan rakyat Suriah
cerah," dan menambahkan, "Kami akan berada di garis terdepan
mendukung Suriah untuk mewujukan ketenangan dan keamanan segera. Republik Islam
Iran akan selalu mendukung mereka."
Sumber : http://news.okezone.com/read/2016/03/16/18/1337299/iran-duga-ada-strategi-besar-pada-penarikan-pasukan-rusia?page=1
(emj)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar