Rabu, 27 April 2016

Kondisi Pemprov DKI di Bawah Ahok Tidak Kondusif



Dennis Destryawan

Anggota Komisi Pemerintahan DPRD DKI Jakarta, Syarif, menilai mundurnya Rustam Effendi sebagai Wali Kota Jakarta Utara merupakan hal wajar.


Pasalnya Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dinilai sebagai pemimpin yang tidak mengapresiasi hasil kerja bawahan.
Syarif sudah memprediksi akan ada beberapa Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang akan mundur di bawah kepemimpinan Ahok. Kondisi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dinilai Syarif penuh tekanan dan tidak kondusif.
"Kondisi pemerintahan di era Pak Gubernur ini di bawah tekanan. Tidak bisa mengapresiasi hasil kerja bawahan. Tidak mampu mendorong dukungan moral. Saya berpendapat tidak aneh," ujar Syarif saat dihubungi Selasa (26/4/2016).

Bahkan, kata Syarif, banyak pejabat di lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang ingin mengundurkan diri.

Hal itu terjadi empat bulan lalu, tepatnya pada Desember 2015
.
"Banyak yang bilang ingin mengundurkan diri, tapi membatalkan niat karena menghargai tanggungjawab pekerjaan sehingga menunda," kata politisi Gerindra tersebut.
Keputusan Rustam mundur sebagai wali kota dinilai tepat.

Syarif merasa prihatin terhadap kondisi tatanan birokrasi.
Bukan tidak mungkin, lanjut dia, keputusan seperti Rustam akan diikuti pejabat Pemprov DKI lainna.
"Saya menyarankan Pak Gubernur berubah tata cara kepemimpinannya," ucap Syarif.
"Gosipnya ada 23 kepala SKPD (yang berniat mengundurkan diri). Tapi juga belum tahu. Itu kan menurut pandangan saya seperti gunung es, yang muncul baru Pak Rustam, di akhir tahun lalu ada pak Djoko (Tri Djoko Sri Margianto, mantan Kadis Tata Air DKI)," imbuh dia.

Seperti diberitakan sebelumnya, Rustam menjelaskan bahwa dirinya mengundurkan diri murni dengan alasan kinerja yang dinilai tidak baik oleh atasannya dan menampik alasan lainnya.
Rustam menjelaskan melihat perkembangan selama Jumat (22/4/2016) lalu, perkataan dari Ahok selalu menganggap dirinya tidak baik dalam bekerja.

"Pak Gubernur menilai kinerja saya masih kurang, jadi saya harus mengundurkan diri. Itu saja," jelasnya di Kantor Wali Kota Jakarta Utara, Selasa (26/4/2016).
Dia juga mengatakan kemundurannya dari jabatan wali kota saat ini bukan karena adanya tekanan dari pihak manapun dan tidak menginginkan ada kekisruhan yang terjadi di pemerintah daerah Jakarta Utara.

"Saya ingin ini mengakhiri semua kekisruhan atau kebisingan lah sayang selama ini berkembang kasihan pak gubernur bekerja. Banyak hal yang harus dikerjakan masa urusan Walikota saja pak gubernur sampai pusing saya juga perlu kenyamanan," urainya.

1 komentar: