Happy Amanda Amalia/PYA
Manila – Pesawat-pesawat tempur Filipina telah melancarkan serangan ke arah kelompok militan Islam yang menawan 20 sandera asing di sebuah pulau terpencil, di sebelah selatan negara itu. Namun, menurut militer, tidak ada tanda-tanda perlawanan.
Pasukan pemerintah mengatakan mereka menghujani tembakan artileri kepada kelompok pria bersenjata Abu Sayyaf di daerah pegunungan, Pulau Jolo, ketika pesawat dan helikopter terbang rendah di atas dataran hutan dan menjatuhkan bom-bom.
Sebelumnya, Presiden Filipina Benigno Aquino telah berjanji, Rabu (27/4), untuk menetralisir militan yang telah bersumpah setia kepada kelompok Negara Islam (NI), sehari setelah penggalan kepala sandera berkewarganegaraan Kanada, John Ridsdel, dibuang di dekat balai kota di Jolo.
“Sebagai hasil dari pengeboman itu, mereka dapat menguasai lokasi bekas diduduki Abu Sayyaf dan berhasil menemukan sisa tubuh Ridsdel,” kata juru bicara militer Kolonel Noel Detoyato kepada wartawan di Manila.
Dia mengatakan warga sipil setempat menyampaikan kepada pihak berwenang bahwa 14 pria bersenjata tewas, namun tidak da laporan temuan jenazah dan jumlahnya tidak dapat diverifikasi secara independen.
Menurut Detoyato, serangan itu menargetkan kepada salah satu veteran komandan Abu Sayyaf, Radullan Sahiron, yang terbukti sukses.
“Yang terpenting di sini adalah bahwa operasi terus berlanjut dan kami akan mendapatkan kemajuan dan pasukan kami telah menetapkan,” kata Detoyato.
Namun dia mengatakan tidak ada penampakan dari para sandera yang tersisa, dan sepertinya para militan lolos dari daerah yang dijadikan target-target serangan.
Menurut Aquino, Rabu, para sandera, termasuk seorang warga negara Kanada, seorang warga negara Nirwegia, dan seorang warga negara Filipina di culik bersama Ridsdel dari kapal pesiar di dermaga, sebelah selatan Filipina sejak tujuh bulan lalu, ditahan oleh Sahiron di Jolo.
Pihak berwenang menyebutkan, saat ini kelompok radikal Abu Sayyaf menyandera lebih dari 20 warga negara asing pasca gelombang baru penculikan. Para sandera, termasuk 18 anak buah kapal (ABK) berkewarganegaraan Indonesia dan Malaysia yang diculik dari kapal tunda di dekat selatan Filipina, sejak bulan lalu.
Kelompok Abu Sayyaf adalah cabang pemberontak separatis Muslim radikal di sebelah selatan Filipina yang dihuni umat Katollik. Mereka mengklaim telah menewaskan lebih dari 100 ribu orang sejak 1970-an.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar