Fabian Januarius
Kuwado – Kompas.com
JAKARTA - Pengurus Pusat Muhammadiyah
menemui Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat
(1/4/2016). Salah satu topik pembicaraannya adalah tentang pandangan dunia
internasional bahwa Indonesia adalah negara teroris.
Ketua PP
Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan, pihaknya meminta Presiden menangani
persoalan radikalisme di Indonesia secara komprehensif dan tuntas agar persepsi
dunia internasional tersebut berubah perlahan-lahan.
"Sehingga
Indonesia tidak dikenal, tidak populer di mata luar negeri seakan-akan negeri
tempatnya terorisme. Padahal sesungguhnya potensi yang sebaliknya jauh lebih besar,"
ujar Haedar usai pertemuan.
"Ini
pentingnya penanganan terhadap terorisme harus betul-betul seksama, baik dari
sisi hukum hingga pengolahan isu agar kita bisa mengembangkan potensi-potensi
kultural yang kita miliki," lanjut dia.
Haedar pun
mengapresiasi manuver politik Indonesia melalui pertemuan antarnegara
Organisasi Kerjasama Islam (OKI), beberapa waktu yang lalu. Khususnya, soal
dukungan kuat terhadap kemerdekaan Palestina.
Haedar
melihat aksi Jokowi saat itu mampu melunturkan persepi di dunia internasional
bahwa Indonesia adalah negara teroris.
"Peran
yang dimainkan Indonesia soal Timur Tengah justru menjadi contoh bagi
negara-negara lain bahwa Islam Indonesia itu bisa menjadi barometer kemajuan
Islam moderat, toleran dan membawa kejayaan," ujar dia.
Selain
membahas radikalisme, Muhammadiyah juga secara resmi meminta Presiden hadir
dalam acara yang digelar PP Muhammadiyah di Yogyakarta, 20 dan 21 Mei 2016
mendatang.
Dalam acara
itu, PP Muhammadiyah mengundang tokoh-tokoh inspiratif antara lain, kepala
daerah, ketua umum partai, politisi dan lain-lain.
"Insya
Allah Presiden tadi sampaikan bersedia hadir untuk membuka acara konvensi
nasional Indonesia berkemajuan. Beliau juga akan menandatangani prasasti di
sana," ujar Haedar.
Dalam
pertemuan itu, PP Muhammadiyah yang hadir yakni Sekretaris Umum Abdul Mukti,
Ketua Bidang Pendidikan Muhazir Effendi, Bendahara Umum Suyatno dan Majelis
Pendidikan Tinggi Bambang Setiaji.
Penulis
|
: Fabian
Januarius Kuwado
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar